Puak Melayu Terabaikan Dalam Derap Pembangunan di Kepri

Batam, Nusantara1.com — Ada rasa Puak Melayu terabaikan dalam proses pembangunan di Kepulauan Riau, khususnya Batam. Dalam kesempatan mendapatkan peluang usaha di sektor swasta dan proyek pemerintah, serta jabatan penting di lembaga pemerintah dan program strategis.

Hal itu terungkap dalam diskusi dua tokoh Melayu, Datok Huzrin Hood dan Megat Rury Afriansyah dalam sebuah pertemuan, beberapa waktu lalu, yang informasinya diperoleh media ini pada Minggu, 14/6/2026. Keduanya prihatin terhadap kondisi nyata yang saat ini terjadi, khusus di Batam, baik sebagai Kawasan Pelabuhan Bebas dan Perdagangan Bebas maupun sebagai pemerintahan kota, dan umumnya di Provinsi Kepulauan Riau.

”Coba kita lihat, sejumlah peluang usaha yang ada di FTZ Batam maupun Pemerintahan Kota Batam, semuanya program dan proyek strategis diisi oleh saudara-saudara (maaf) non Melayu,” kata Megat Rury Afriansyah. Begitu juga, menurutnya, peluang usaha yang terkait dengan kepentingan umum, hampir tidak ada keterlibatan sahabat-sahabat dari Puak Melayu sebagai penggerak ekonomi dalam tingkatan pemimpin (leader).

Datok Huzrin Hood.
Datok Huzrin Hood.

Padahal, Huzrin Hood bersama Rury Afriansyah menjelaskan, tanah dan perairan di Kepri merupakan ruang yang penuh dengan kekayaan alam dan letak strategis secara ekonomi. Sejak Provinsi Kepri berdiri pada 2002 lalu, kata Rury Afriansyah, wilayah yang berbatasan dengan sejumlah negara tetangga ini telah diisi oleh kegiatan pembangunan yang marak di segala sektor.

Baik Huzrin Hood, maupun Megat Rury Afriansyah, sepakat agar pemuda dan tokoh dari Puak Melayu jangan jadi penonton di negerinya sendiri. Ada fenomena generasi muda Puak Melayu mengalami perpecahan dan krisis jati diri. Hal itu terlihat dalam fenomena pergolakan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa Rempang dan Galang, kata Huzrin Hood, serta peristiwa perobohan Hotel dan Resort Purajaya, menjadi contoh nyata upaya menyingkirkan para tokoh dan pengusaha Melayu dari Batam dan Kepri.

Kontribusi Puak Melayu dalam perjalanan bangsa Indonesia cukup besar, baik dari bahasa, adat istiadat, serta budaya yang telah melembaga di berbagai sendi kehidupan bernegara. ”Sifat dari Puak Melayu adalah menjaga adat istiadat luhur, dapat berbaur dengan semua kalangan, dan suka mengalah. Di tengah sifat yang terbuka, ramah dan dapat beradaptasi dengan semua kalangan, janganlah pula dimanfaatkan oleh pemerintah maupun penguasa untuk membiarkan Puak Melayu tersisihkan, dan sering dijadikan sebagai alat dan korban saja,” tegas Huzrin Hood.

”Adat itu pedoman hidup orang Melayu. Di dalamnya ada nilai, etika, dan tunjuk ajar yang membentuk karakter. Jika adat ditinggalkan, maka identitas dan kekuatan moral generasi muda juga akan ikut melemah. Karena itu, generasi muda dan pengusaha dari Puak Melayu semestinya tampil di barisan depan dalam memberikan kontribusi pembangunan, baik dari sisi budaya maupun masalah ekonomi,” kata Huzrin Hood.

Dia menyoroti maraknya perbedaan pandangan politik dan kepentingan kelompok yang berpotensi memecah belah masyarakat. Ia meminta pemuda menjadi perekat persaudaraan, bukan justru menjadi bagian dari konflik sosial. ”Pemerintah tidak seharusnya membiarkan terjadinya adu domba di tengah kepentingan ekonomi. Kepulauan Riau adalah rumah Bersama, di mana setiap puak harus mendapat kesempatan secara merata dan proporsional,” pungkasnya.

Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *