Sejak 1978 Lebih Dari 300 Personil UNIFIL Tewas
Beirut, Nusantara1.com — Utusan AS untuk PBB, Mike Waltz, 31/3/2026, mengatakan kepada pertemuan Dewan Keamanan bahwa sejak 1978, lebih dari 300 pasukan penjaga perdamaian UNIFIL telah tewas. Hal itu menunjukkan bahwa PBB ‘harus mempertimbangkan dengan sangat hati-hati efektivitas upaya ini.’
United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) adalah pasukan penjaga perdamaian PBB yang dibentuk pada Maret 1978 untuk mengawasi penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan, memulihkan keamanan internasional, dan membantu pemerintah Lebanon menegakkan otoritasnya.
”Kita dapat membantu memfokuskan kembali upaya internasional untuk mendukung lembaga-lembaga negara Lebanon, mengurangi risiko bagi pasukan penjaga perdamaian, dan menekan Hizbullah dan Iran untuk menghentikan aktivitas destabilisasi mereka,” katanya.
Sesuai dengan keputusan Dewan Keamanan, UNIFIL akan menghentikan operasinya pada akhir tahun 2026 dan menarik diri pada tahun 2027. Hingga Maret, UNIFIL memiliki 7.505 pasukan penjaga perdamaian dari 47 negara.
PBB menyebut pihaknya telah bekerja dan memperoleh temuan awal yang menunjukkan ledakan di pinggir jalan menewaskan pasukan penjaga perdamaian. Sebagaimana diketahui, dua anggota TNI yakni Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan tewas imbas ledakan di dekat Bani Hayyan pada Senin (31/3/2026).
Sebuah ledakan di pinggir jalan tampaknya telah menghantam konvoi dua pasukan penjaga perdamaian Indonesia yang tewas di Lebanon selatan, kata kepala pasukan penjaga perdamaian PBB pada 31 Maret, mengutip temuan awal investigasi.
Kedua pasukan penjaga perdamaian dari pasukan UNIFIL tersebut tewas pada 30 Maret di dekat Bani Hayyan di Lebanon selatan dan dua tentara lainnya terluka. Seorang tentara Indonesia lainnya tewas pada malam 29 Maret hingga 30 Maret ketika sebuah proyektil meledak di dekat salah satu posisi kelompok tersebut.
UNIFIL Lakukan Investigasi
”UNIFIL sedang melakukan investigasi untuk menentukan keadaan dari perkembangan yang tercela ini,” kata Jean-Pierre Lacroix, kepala pasukan penjaga perdamaian PBB, dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB tentang Lebanon, tempat perang baru antara Israel dan kelompok bersenjata Lebanon Hizbullah meletus pada 2 Maret.
Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menyalahkan kematian tiga pasukan penjaga perdamaian tersebut kepada Hizbullah. Ia menuduh kelompok tersebut meluncurkan roket dari desa-desa di dekat posisi PBB, “menempatkan pasukan penjaga perdamaian langsung di garis tembak.”
Ketika ditanya tentang pernyataan Danon, juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, mengatakan: “Kami mengundang mereka untuk membagikan bukti mereka dengan tim investigasi kami.”
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan dalam sebuah pengarahan bahwa “bom pinggir jalan, kemungkinan besar IED,” atau alat peledak improvisasi, adalah penyebab insiden Bani Hayyan.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk keras pembunuhan para penjaga perdamaian tersebut, dengan mengatakan bahwa serangan semacam itu merupakan ‘pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional… dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.’
”Akan ada pertanggungjawaban,” tambahnya dalam sebuah pernyataan.
Kementerian Luar Negeri Indonesia pada 30 Maret 2026 mengutuk serangan tersebut ‘dengan sekeras-kerasnya,’ menambahkan bahwa serangan itu mencerminkan memburuknya lingkungan keamanan di kawasan tersebut. Dikatakan bahwa operasi militer Israel yang sedang berlangsung telah menempatkan pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon dalam risiko besar.
(Reuters/Redaksi)

