Jakarta, Nusantara1.com — Suahasil Nazara resmi dilantik menjadi Menteri Keuangan Republik Indonesia menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada Senin (14/9/2026). Sebelumnya ia menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan Kabinet Merah Putih sejak Menkeu masih Sri Mulyani Indrawati.
Ternyata Suahasil adalah dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sejak 1999, hingga kemudian meraih gelar Guru Besar di bidang Ilmu Ekonomi pada tahun 2009. Di lingkungan akademik, ia pernah menjabat sebagai Kepala Program Studi Pascasarjana Ilmu Ekonomi (2004-2005), Kepala Lembaga Demografi (2005-2008), serta Ketua Departemen Ilmu Ekonomi (2009-2013).
Keterlibatannya dalam kebijakan publik semakin luas melalui perannya sebagai anggota Tim Asistensi Menteri Keuangan bidang Desentralisasi Fiskal (2009-2011), Wakil Ketua Komite Pengawas Pelaksanaan Otonomi Daerah (2009-2015), Koordinator Pokja Kebijakan di Sekretariat Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (2010-2015), serta Anggota Dewan Komite Ekonomi Nasional (2013-2014).
Adapun, karier Suahasil di Kementerian Keuangan kian signifikan ketika ditugaskan sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal secara definitif pada 31 Oktober 2016. Pada 25 Oktober 2019, Suahasil dipercaya sebagai Wakil Menteri Keuangan dalam Kabinet Indonesia Maju, mendampingi Menteri Keuangan dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan fiskal nasional.
Diketahui dari data Kemenkeu, Suahasil meraih gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia pada tahun 1994. Ia kemudian melanjutkan studi ke Cornell University, Amerika Serikat, dan memperoleh gelar Master of Science (M.Sc.) pada tahun 1997. Selanjutnya, ia menyelesaikan program doktoral di University of Illinois at Urbana-Champaign dan meraih gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) di bidang ekonomi pada tahun 2003, yang semakin memperkuat kapasitasnya dalam bidang akademik dan kebijakan ekonomi.
Saham-saham Kompak Menguat
Terkait dengan berita pergantian Menkeu, saham-saham perbankan terpantau menguat signifikan pada perdagangan Senin (14/9/2026), di tengah reshuffle kabinet itu. Penguatan terjadi pada sejumlah saham bank jumbo, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), hingga PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS).
Dikutip dari CNBC Indonesia, per pukul 15.20 WIB hari ini, saham BBRI berada di level Rp3.340 per saham, menguat 70 poin atau 2,14% dibandingkan penutupan sebelumnya. Kendati demikian, secara year to date (ytd), saham BBRI masih tercatat turun 8,24%. Saham BBCA juga menguat 75 poin atau 1,19% ke level Rp6.400 per saham. Penguatan tersebut terjadi setelah saham BBCA sebelumnya telah terkoreksi 20,25% secara ytd.
Sementara itu, saham BMRI naik 30 poin atau 0,69% menjadi Rp4.390 per saham. Namun, secara ytd saham BMRI masih berada dalam tren penurunan dengan koreksi sebesar 13,50%. Saham BBTN tercatat menguat 20 poin atau 1,70% ke level Rp1.195 per saham. Berbeda dengan bank jumbo lainnya, saham BBTN masih membukukan kenaikan sebesar 3,02% secara ytd.
Adapun saham BRIS naik tipis 5 poin atau 0,29% ke level Rp1.725 per saham. Meski menguat pada perdagangan hari ini, saham BRIS masih mencatatkan penurunan sebesar 20,14% secara ytd.
Redaksi.






