Harlah 24 Kepri: Jantung Melayu yang Tak Pernah Padam

Oleh: Redaksi.

Batam, Nusantara1.com — Nama Melayu terkenal, namun banyak yang lupa asal muasalnya. Pulau Penyengat adalah pusat lahirnya bahasa Melayu baku, fondasi Bahasa Indonesia. Namun pada 1958, ketika pemerintah membentuk provinsi baru, yakni Provinsi Riau, justru ibukotanya dipindahkan ke daratan Sumatra di Kota Pekanbaru.

Akibatnya, Riau daratan kini terkenal di peta nasional dan internasional, sementara Kepulauan Riau, asal nama itu terkenal, tertutup bayang-bayang, meski sejarah dan akar budaya Melayu lahir di sini.

Kepulauan Riau ibarat ibu yang mengandung, rahim peradaban Melayu. Kepulauan Riau melahirkan dan merawat warisan budaya Melayu, yang kemudian dinikmati oleh bangsa Nusantara, yakni Indonesia. Kepulauan Riau adalah rahim tempat bahasa, sastra, adat resam, dan tata krama Melayu lahir dan dibesarkan sebelum menyebar ke seluruh Nusantara.

Dari ‘kandungan’ sejarah wilayah ini (terutama era Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang), lahirlah mahakarya seperti Gurindam Dua Belas dan standardisasi Bahasa Melayu tinggi yang kelak menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia.

Kepulauan Riau, sering dijuluki sebagai Bunda Tanah Melayu. Kata ‘Bunda’ menegaskan peran sebagai raga sang ibu, sedangkan nilai-nilai kebudayaan, sejarah, dan etika adat yang hidup di dalamnya adalah Jantung Melayu. Jiwa yang terus berdenyut dan memberi kehidupan pada raga tersebut.

Pengorbanan dan Kasih SayangLayaknya seorang ibu yang mengandung dengan penuh kepayahan demi melahirkan generasi penerus, Kepulauan Riau secara historis telah melintasi berbagai pergolakan zaman mulai dari era kolonial, perjuangan Sultan Mahmud Riayat Syah, hingga pemekaran provinsi, demi menjaga marwah dan identitas Melayu agar tidak hilang ditelan zaman (Tak kan Melayu hilang di bumi).

Di ulang tahun Provinsi Kepulauan Riau ke-24 ini, penulis mengetuk kesadaran generasi muda untuk menghormati, menjaga, dan merawat ‘Sang Ibu’ Tanah Kepri beserta nilai-nilai kebudayaan yang dikandungnya agar tetap lestari.

Pulau Penyengat.
Pulau Penyengat.

Jejak Kesultanan Riau-Lingga

Sebelum Republik Indonesia berdiri, Kesultanan Riau-Lingga adalah pusat perdagangan, pendidikan Islam, dan kebudayaan Melayu. Dari istana Pulau Penyengat lahir karya monumental Gurindam Dua Belas dan tata bahasa Melayu modern. Walau Belanda membubarkan kesultanan pada 1911, identitas Melayu tidak padam—ia bertransformasi menjadi gerakan kultural yang kelak mewarnai perjuangan pemekaran Kepri.

Kebangkitan marwah Kepri pada akhir 1990-an lahir dari kolaborasi unik antara tokoh adat, bangsawan, dan pelaku usaha. Ir. Zulkarnain Kadir – pengusaha maritim dan properti yang memanfaatkan jejaring bisnisnya untuk menyiapkan naskah akademik dan melobi Jakarta, sehingga pemerintah pusat yakin Kepri memiliki pondasi ekonomi mandiri.

Datuk Huzrin Hood – salah seorang penggerak massa yang menyatukan nelayan, pemuda, dan masyarakat adat. Tengku Fuad – pewaris Kesultanan Riau-Lingga yang kini digantikan oleh Said Ubaidillah, memberi legitimasi sejarah dan kultural. Menjadi kombinasi kekuatan modal, dukungan rakyat, dan warisan kesultanan inilah yang melahirkan UU No. 25/2002, menegaskan berdirinya Provinsi Kepulauan Riau.

Kepri, Jantung Melayu yang Tak Pernah Padam

Lembaga Adat Melayu (LAM) berdiri sebagai benteng budaya, menjaga adat dan menjadi mediator antara pemerintah, investor, dan masyarakat. Prinsipnya jelas: adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah. Namun, hingga kini banyak rekomendasi LAM tidak digubris, baik oleh pemerintah pusat maupun oleh badan pengelola kawasan ekonomi. Aspirasi masyarakat untuk status Daerah Istimewa yang meniru pengakuan khusus seperti Yogyakarta terus menggema sebagai cara mengamankan hak adat, laut, dan tanah warisan.

Perobohan Hotel Purajaya atas perintah Jenni dan Bobie Jayanto sebagai Direktur dan Komisaris Utama PT Pasifik Estatindo Perkasa (PEP). Tanah Adat yang Kini Harus ‘Menyewa.’

Ketika Indonesia merdeka, tidak ada masyarakat adat Kepri yang menyerahkan tanahnya kepada negara. Tetapi kini, pemilik tanah adat dipaksa menyewa kembali kepada pemerintah melalui kewajiban membayar Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO).

Bahkan lahan turun-temurun yang diwariskan sejak masa kesultanan bisa digusur atas nama investasi. Ironi yang lahir: tanah yang seharusnya tetap milik masyarakat adat justru diambil alih dan disewakan kembali oleh negara kepada pemilik aslinya.

Daerah Istimewa: Menuju Sorotan Dunia

Gagasan Daerah Istimewa untuk Kepri tidak hanya bergema di forum-forum lokal dan nasional. Aspirasi ini mulai disounding untuk sorotan internasional, dengan wacana bahwa perjuangan masyarakat adat Melayu dan LAM dapat diangkat ke forum global mulai dari organisasi internasional hingga lembaga peradilan dunia sebagai upaya menegaskan hak sejarah dan perlindungan budaya.

Bagi para pejuang marwah, dukungan dan perhatian dunia diharapkan menjadi dorongan agar pemerintah pusat memberi pengakuan yang lebih adil. Melayu Riau Lingga atau Kepri, menjadi sorotan dunia. Megat Rurry Afriansyah siap membantu Generasi Baru Melayu di Kepri.

Sebagai cucu bangsawan, Megat Rury siap meneruskan estafet perjuangan. Dia tidak rela pengorbanan ayahandanya yang ikut memperjuangkan lahirnya Provinsi Kepri terbuang sia-sia apalagi dilecehkan oleh permainan mafia yang justru mendapat dukungan dari BP Batam dan pemerintah yang dulu diperjuangkan keluarganya.

Ketika Hotel Purajaya, ikon Melayu yang dibangun keluarganya, dirobohkan tanpa kejelasan hukum, Rurry berdiri paling depan: ”Marwah Melayu bukan komoditas. Ia darah dan identitas,” tegasnya. Ia menghubungkan komunitas Melayu lintas negara, menegaskan bahwa Kepri adalah simpul budaya serumpun, bukan sekadar kawasan industri.

Asri alias Akim, pemegang saham tertinggi di Konsorsium Pasifik, termasuk PT Pasifik Estatindo Perkasa: Yang merusak dan menghancurkan aset pengusaha Melayu. Kepri Terbuka untuk Semua Dengan Rasa Hormat.

Kepulauan Riau selalu menjadi persimpangan dunia. Semangat itu tetap hidup: Tetapi, seperti tamu yang santun, setiap pendatang dan investor diharapkan menghargai tuan rumah, ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menjaga kelestarian alam serta budaya.

Mengapa Malaysia Lebih Mengakui Melayu Kepri

Malaysia menempatkan “Melayu” sebagai identitas kebangsaan inti dan menghargai Melayu dan Bumiputera. Komunitas Melayu Kepri otomatis dipandang sebagai keluarga besar ‘Bangsa Melayu’ lintas negara. Indonesia, dengan identitas majemuk, tidak memberikan status khusus meski bahasa nasional lahir dari akar Melayu Riau-Lingga.

Marwah Melayu di Kepri Tak Bisa Dipadamkan. Dari Raja Ali Haji hingga Megat Rurry Afriansyah, dari Zulkarnain Kadir hingga Datuk Huzrin Hood, dari Kesultanan Riau-Lingga hingga Lembaga Adat Melayu, perjuangan Kepri adalah perlawanan atas penghapusan identitas dan hak tanah.

Meski suara adat kerap diabaikan bahkan oleh pemerintah pusat jantung Melayu ini tetap berdenyut. Budaya tidak bisa dibeli. Nama tidak bisa dicuri. Marwah tidak bisa dijual.

Selamat Merayakan Ulang Tahun Provinsi Kepulauan Riau yang Ke-24. Semoga kita semua, sebagai Puak Melayu di Kepri, ataupun pendatang yang telah menetapkan diri sebagai warga Kepulauan Riau, kita semua meneguhkan hati, membesarkan Kepri, sebagai Bunda Tanah Melayu. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *