Batam, Nusantara1.com — Sabtu, 23 Mei 2026, tepatnya empat hari lalu, sejumlah media merilis berita: Selamat! Ahmad Rosano Ditunjuk Jadi Staf KSP Deputi I, Akan Dilantik Presiden Prabowo. Berbagai judul ditampilkan di media-media yang terafiliasi dengan sebuah konsorsium usaha, namun intinya mengemukakan fakta Ahmad Rosano resmi dan dipastikan dilantik Prabowo pada Senin, 25 Mei 2025.
Dengan rasa ‘terpaksa,’ sebagai wartawan yang telah berkecimpung puluhan tahun di Kepri, saya berkewajiban mengangkat tulisan ini. Tujuannya bukan membahas Ahmad Rosano dan perilakunya, sebab tokoh tersebut agaknya sedang berupaya membuat framing sebagai tokoh penting. Tetapi yang ingin saya kritik dalam karya jurnalis tersebut adalah munculnya sebuah fenomena ‘Jurnalisme Advokasi.”
Jurnalisme Advokasi, dan sering disebut Jurnalisme Partisan, adalah bentuk jurnalisme yang secara sadar mencampur wacana dengan fakta untuk mendukung agenda atau ideologi tertentu. Jurnalisme Advokasi di mana media atau jurnalis bertindak sebagai aktivis yang membela isu tertentu (misalnya politik, sosial, lingkungan dsb), sehingga data (fakta) sering disajikan untuk memperkuat narasi (wacana) mereka.
Mirip dengan Jurnalisme Partisan, di mana peliputan condong pada partai, kelompok, kelompok (korporasi atau konsorsium) usaha atau tokoh tertentu. Fakta dilaporkan secara selektif agar sesuai dengan garis wacana kelompok tersebut. Jurnalisme seperti ini tidak peduli terhadap kode etik, dan dasar penulisan hanya bertumpu pada subjektifitas, sama sekali tidak objektif.
Pungguk Merindukan Bulan
Kembali ke ‘kasus’ Ahmad Rosano, di mana peribahasa populer menyebut; ”Bagai Pungguk Merindukan Bulan,” sering menjadi sindrom yang menghinggapi seseorang yang terobsesi jadi tokoh. Peribahasa yang sudah terkenal sejak dulu, menjelaskan seseorang yang mengharapkan sesuatu yang mustahil untuk dicapai. Burung pungguk (sejenis burung hantu) diibaratkan sedang merindukan atau mengharapkan rembulan yang sangat jauh dan mustahil untuk digapai.
Dalam fakta kehidupan, digambarkan seseorang yang terlalu tinggi mengkhayalkan atau menginginkan suatu cita-cita yang tidak realistis. Untuk memahami lebih lanjut mengenai sastra atau budaya di balik ungkapan ini, anda bisa membaca ulasan dan penjelasannya melalui Arti Peribahasa Pungguk Merindukan Bulan di Scribd atau melihat diskusi di Quora.
Terlepas dari sindrom itu, seharusnya jurnalis tidak malah jadi korban sindrom seseorang, atau seorang tokoh, dengan menghasilkan jurnalisme yang buruk, sehingga muncul istilah Jurnalisme Advokasi. Jurnalis seharusnya merupakan orang terakhir yang menggenggam kebenaran dalam menyajikan informasi dan fakta. Bukannya turut ‘hanyut’ dalam mimpi dan obsesi ‘menggapai langit’ dari nara sumber.
Sebenarnya, sejak Senin, 25/5/2026 siang, ketika tidak ada agenda pelantikan pejabat di kalangan Kantor Staf Presiden (KSP) yang baru saja dipimpin oleh Jenderal (Purn) TNI Prof Dr Dudung Abdurachman, yang ditelusuri media ini, keraguan yang ada semakin besar. Hingga akhirnya Kepala PSP sendiri mengeluarkan rilis yang menyebut informasi Ahmad Rosano akan dilantik sebagai Staf Khusus KSP, adalah hoax atau berita bohong.
Artificial Inteligen menjelaskan: Tidak benar. Kantor Staf Presiden (KSP) RI telah memberikan klarifikasi resmi dan membantah dengan tegas kabar mengenai pengangkatan Ahmad Rosano sebagai staf atau Tenaga Ahli KSP. Sebelumnya, sempat beredar pemberitaan di beberapa media lokal Batam yang menyebutkan bahwa Ketua Umum DPP Perkumpulan Keluarga Sulawesi Selatan (PKSS) tersebut ditunjuk menjadi Staf Deputi I KSP bidang investasi dan akan dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin, 25 Mei 2026.
Melalui hak jawab resmi yang dirilis oleh Kepala Sekretariat KSP, Agung Setiawan, pihak KSP meluruskan beberapa poin penting: Bukan Bagian dari KSP: Ahmad Rosano tidak sedang dalam proses rekrutmen, pengangkatan, maupun penempatan sebagai staf ataupun Tenaga Ahli di lingkungan KSP RI.
Kepala KSP Tidak Mengenal yang Bersangkutan: Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman menyatakan tidak mengenal sosok Ahmad Rosano sebagaimana yang diberitakan. Kekeliruan Nomenklatur & Mekanisme: KSP menegaskan bahwa Deputi I KSP membidangi Politik, Hukum, dan Keamanan, bukan bidang investasi. Selain itu, tenaga profesional atau staf KSP diangkat melalui mekanisme administrasi internal, bukan melalui pelantikan langsung oleh Presiden.
Oleh karena itu, informasi yang mengklaim Ahmad Rosano diangkat menjadi staf khusus atau staf Deputi I KSP dipastikan merupakan informasi yang tidak akurat (hoaks).
Jurnalisme Adokasi
Dikutip dari tulisan ”Opinion is free, facts are sacred,” (artinya opini itu bebas, fakta itu suci) oleh Jacob Oetama, pendiri dan pemimpin umum Harian Umum Kompas, menyebut: Praktik mencampuradukkan wacana (opini/interpretasi) dengan fakta dalam karya jurnalistik disebut sebagai jurnalisme advokasi, jurnalisme partisan, atau secara spesifik pelanggaran terhadap prinsip pencampuran fakta dan opini menghakimi. Dalam etika pers, prinsip utamanya adalah ”fakta itu suci, opini itu bebas.”
Berikut adalah bentuk-bentuk praktik dan istilah yang berkaitan dengan wacana yang bercampur fakta di dunia media:
- Pelanggaran Kode Etik (Fakta vs Opini)
Dalam jurnalisme objektif, wartawan dilarang keras mencampuradukkan antara fakta peristiwa dan opini pribadi. Opini Menghakimi: Berita disusupi dengan sudut pandang subjektif atau penghakiman moral dari penulis yang menggiring opini pembaca. Pembingkaian (Framing): Pemilihan fakta tertentu dan pengabaian fakta lain untuk membentuk wacana atau persepsi publik yang diinginkan media.
- Jurnalisme Advokasi dan Partisan
Bentuk jurnalisme yang secara sadar mencampur wacana dengan fakta untuk mendukung agenda atau ideologi tertentu. Jurnalisme Advokasi: Media atau jurnalis bertindak sebagai aktivis yang membela isu tertentu (misalnya lingkungan atau politik), sehingga data (fakta) sering disajikan untuk memperkuat narasi (wacana) mereka. Jurnalisme Partisan: Peliputan yang condong pada partai, kelompok, atau tokoh tertentu. Fakta dilaporkan secara selektif agar sesuai dengan garis wacana kelompok tersebut.
- Gaya Penulisan Subjektif
Beberapa gaya jurnalistik memang menuntut penulis memasukkan wacana, emosi, atau interpretasi ke dalam laporan berbasis fakta: Jurnalisme Sastra (Literary Journalism): Menggunakan teknik penulisan fiksi atau sastra untuk melaporkan fakta. Jurnalisme Gonzo: Laporan investigasi yang ditulis dari sudut pandang orang pertama (first-person narrative) di mana wartawan itu sendiri terlibat langsung di dalam peristiwa.
Mengapa Pemisahan Itu Penting, dilansir dari panduan pers yang tertuang dalam Dasar-Dasar Jurnalistik, pemisahan tegas antara fakta dan opini adalah hak pembaca untuk mendapatkan informasi yang murni dan akurat agar masyarakat dapat mengambil kesimpulan mereka sendiri secara mandiri.
Redaksi.






