Batam, Nusantara1.com — Riau Corruption Watch (RCW) Kepulauan Riau mendesak aparat penegak hukum, khususnya Kepolisian dan Kejaksaan mengusut gagalnya Kontingen Paduan Suara Wanita (PSW) Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Kontingen Kepri tampil di Manokwari, Papua, akibat tak membayar tiket pesawat. Diduga anggaran Rp1,8 miliar yang berasal dari APBD Kepri tidak tepat sasaran.
”Kami meminta aparat hukum menelisik kejadian tertundanya keberangkatan team Pesparawi Nasional Provinsi Kepri ke Papua, yang hanya sampai di Jakarta akibat tidak mendapat tiket pesawat. Ini seperti main main padahal sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelum acara,” kata Koordinator RCW Kepri, Muren Mulkan, kepada media di Batam, Minggu, 28/6/2026.
Pegiat anti korupsi itu heran, mengapa panitia berangkat lebih dahulu ke Papua tanpa memastikan penyanyi yang hendak tampil, telah memiliki tiket atau tidak. ”Padahal, menurut pengakuan salah seorang panitia melalui media sosial, mereka telah memesan dan membayar lunas tiket sebulan sebelum berangkat, sehingga masalah tersebut diserahkan ke pihak travel. Bagi kami, alasan tersebut tidak dapat diterima,” ucap Muren Mulkan.
RCW meminta Kepolisian pro-aktif, sebab pidana korupsi harus diusut meski belum ada pelapor, karena telah menjadi konsumsi publik. ”Polda Kepri kami minta memanggil panitia, khususnya Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah untuk menelisik kejadian tersebut. Hukum tidak boleh berpangku tangan, karena dana yang digunakan adalah uang rakyat, pertanggungjawaban publik harus dilakukan,” katanya.
Jika terbukti ada penyelewengan, atau bahkan kelalaian, kata Mulkan, RCW meminta penegak hukum memproses pihak yang bertanggungjawab. ”Kami dapat informasi bahwa puluhan official telah lebih dulu berangkat ke Papua tanpa memastikan ada atau tidak tiket peserta. Sebuah perjalanan yang sia-sia karena official itu merupakan pendukung, bukan peserta inti dari perhelatan Pesparawi tersebut,” ujarnya.

Menginap dan bernyanyi di Bandara Soetta
Kisah sedih yang dialami 27 perempuan dari Kontingen PSW asal Tanjungpinang, Kepulauan Riau, mereka mengaku diberikan tiket bodong oleh panitia. Seharusnya mereka berangkat dari Batam ke Manokwari pada 24 Juni 2026 Bersama kontingan Paduan Suara Pria (PSP). Tetapi, sesuai dengan pengakuan peserta di bandara Hang Nadim dan di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, panitia hanya memberikan tiket ke PSP untuk berangkat pada 24 Juni 2026 ke Manokwari.
”Seharusnya kami berangkat sama pada tanggal 24 Juni 2026 bersama PSP, di mana seharusnya kami tampil lebih dahulu pada tanggal 26 Juni 2026, dan PSP baru tampil pada tanggal 27 Juni 2026. Ini malah, kami diberikan tiket tanggal 25 ke Jakarta saja, dan sampai tanggal penampilan kami tidak ada tiket, dan akhirnya dipulangkan dari Jakarta Kembali ke Tanjungpinang,” ujar seorang peserta PSW yang gagal berangkat.
Kamis malam, 25/6/2026, mereka baru mendarat di Jakarta. Mereka menginap di bandara dan pada Jumat 26/6/2026 harusnya mereka naik panggung di Manokwari, Papua Barat dalam ajang Pesparawi Nasional 2026. Mereka telah memakai seragam yang dipersiapkan jauh-jauh hari, dan mereka telah berlatih selama 2 tahun hingga di perjalanan. Tapi mereka berhenti di meja check-in. Kontingen PSP Pesparawi Nasional dari Kepri itu hanya mendapat penjelasan dari bagian ticketing: ”Maaf bu, tiketnya belum dibayar. Ini baru booking.”
Rombongan yang dilepas resmi oleh Wakil Gubernur Kepri itu, setelah telantar satu malam, yang ditunggu bahkan hanya harapan kosong. Mereka kembali terlantar seharian di Terminal 3 Soekarno-Hatta. Pada saat yang sama, Panitia Keberangkatan Pesparawi asal Kepri terlihat memosting kegembiraan jalan-jalan di Manokwari, Papua Barat. Ketika ditelepon oleh kontingen yang telantar di Bandara Soetta, panitia tidak memberi respon.
Untuk mengobati kekecewaan, Kontingen PSW Pesparawi Nasional asal Kepri, dengan seragam warna merah, yang indah, yang hendak ditampilkan di Manokwari, mengambil inisiatif dengan mempersembahkan lagu lomba di hadapan publik Bandara Soetta, Tangerang. Lagu yang harusnya menggema di gedung Pesparawi Manokwari, akhirnya bergema di Soekarno-Hatta, meski tidak ada juri, tidak ada penilaian dan tidak masuk dalam prestasi Kepri.
Media ini berupaya menghubungi Ketua Panitia Pelaksana/Pemberangkatan Pdt Resmina Sihombing dan Ketua Umum LPPD Kepri, Jumaga Nadeak, namun hingga berita ini dirilis, keduanya belum dapat dihubungi. Sebelumnya LPPD Kepri juga telah membatalkan keberangkatan Kontingen Paduan Suara Dewasa Campuran (PSDC) dan Paduan Suara Remaja Pemuda (PSRP).
Sehingga dalam ajang Pesparawi Nasional 2026 di Papua, peserta dari Kepri hanya diisi oleh kategori Paduan Suara Pria (PSP) yang hanya diisi oleh 21 orang. ”Karena itulah kita mempertanyakan penggunaan dana APBD sebesar Rp1,8 miliar hanya untuk kategori PSP dan Official, sebuah penyimpangan penggunaan anggaran negara,” pungkas Muren Mulkan.
Redaksi.

